Sakit rasanya ketika kesulitan itu tiba2 datang dan saya hampir putus asa dengan keadaan.
Tapi saya tidak ingin menjadi manusia yang sia-sia,,,
Menyia-nyiakan satu kali kesempatan untuk berkehidupan.
22 tahun yang lalu saya sudah hidup,
memiliki 2 malaikat tak bersayap yang Tuhan beri nama mereka Ayah dan Ibu,
saya sudah hidup, sudah merasakan kasih sayang yang amat dalam dari orang tua.
Saya sudah hidup, ketika saya menginjak lingkungan kecil dan belajar tentang arti persahabatan, pertemanan, guru, dan ilmu2 yang pernah saya dapat.
Saya sudah hidup, ketika saya memasuki dunia yang orang bilang itu "keras", saya hidup, dengan keringat saya sendiri, saya bertahan, bertahan untuk hidup.
Saya pun sudah hidup, saat menemukan satu keturunan Adam yang akan membawa saya pada kedamaian kehidupan untuk hari tua saya.
Dan kali ini, saya merasa belum dibangkitkan untuk hidup saat harus dihadapkan pada pilihan menuju jalan kesuician cinta saya dengan makhluk "Adam" itu.
Saya masih suri,,,
Saya belum sepenuhnya terbangun untuk hidup.
Karena terlalu banyak pahit yang harus saya telan,,
Saya ingin menyerah, tapi saya ingin tetap menjadi hidup, seperti 22 tahun silam,,, dan akan selalu seperti itu saat saya tua nanti.
Tapi apakah hidup yang saya pilih ini salah ?
Apakah hidup yang saya pilih jalannya ini benar ?
Semua pertanyaan2 gampang itu sangat sulit untuk dijawab.
Senin, 03 Juni 2013
3 Juni 2013
Saat ini, semua seperti semakin sulit...
Bahkan jika saya harus bicara pada diri saya sendiri, saya tidak tau apa yang saya rasakan,,,
Saya sudah mati,,,
Perasaan saya sudah tidak bisa saya rasakan lagi...
Senyumpun bagai tak ada maknanya,,,
Senang,,
Sedih,,,
Kecewa,,
Putus asa, menyatu dalam detik yang sama.
Sakit rasanya ketika kesulitan itu tiba2 datang dan saya hampir putus asa dengan keadaan.
Tapi saya tidak ingin menjadi manusia yang sia-sia,,,
Menyia-nyiakan satu kali kesempatan untuk berkehidupan.
22 tahun yang lalu saya sudah hidup,
memiliki 2 malaikat tak bersayap yang Tuhan beri nama mereka Ayah dan Ibu,
saya sudah hidup, sudah merasakan kasih sayang yang amat dalam dari orang tua.
Saya sudah hidup, ketika saya menginjak lingkungan kecil dan belajar tentang arti persahabatan, pertemanan, guru, dan ilmu2 yang pernah saya dapat.
Saya sudah hidup, ketika saya memasuki dunia yang orang bilang itu "keras", saya hidup, dengan keringat saya sendiri, saya bertahan, bertahan untuk hidup.
Saya pun sudah hidup, saat menemukan satu keturunan Adam yang akan membawa saya pada kedamaian kehidupan untuk hari tua saya.
Dan kali ini, saya merasa belum dibangkitkan untuk hidup saat harus dihadapkan pada pilihan menuju jalan kesuician cinta saya dengan makhluk "Adam" itu.
Saya masih suri,,,
Saya belum sepenuhnya terbangun untuk hidup.
Karena terlalu banyak pahit yang harus saya telan,,
Saya ingin menyerah, tapi saya ingin tetap menjadi hidup, seperti 22 tahun silam,,, dan akan selalu seperti itu saat saya tua nanti.
Tapi apakah hidup yang saya pilih ini salah ?
Apakah hidup yang saya pilih jalannya ini benar ?
Semua pertanyaan2 gampang itu sangat sulit untuk dijawab.
Sakit rasanya ketika kesulitan itu tiba2 datang dan saya hampir putus asa dengan keadaan.
Tapi saya tidak ingin menjadi manusia yang sia-sia,,,
Menyia-nyiakan satu kali kesempatan untuk berkehidupan.
22 tahun yang lalu saya sudah hidup,
memiliki 2 malaikat tak bersayap yang Tuhan beri nama mereka Ayah dan Ibu,
saya sudah hidup, sudah merasakan kasih sayang yang amat dalam dari orang tua.
Saya sudah hidup, ketika saya menginjak lingkungan kecil dan belajar tentang arti persahabatan, pertemanan, guru, dan ilmu2 yang pernah saya dapat.
Saya sudah hidup, ketika saya memasuki dunia yang orang bilang itu "keras", saya hidup, dengan keringat saya sendiri, saya bertahan, bertahan untuk hidup.
Saya pun sudah hidup, saat menemukan satu keturunan Adam yang akan membawa saya pada kedamaian kehidupan untuk hari tua saya.
Dan kali ini, saya merasa belum dibangkitkan untuk hidup saat harus dihadapkan pada pilihan menuju jalan kesuician cinta saya dengan makhluk "Adam" itu.
Saya masih suri,,,
Saya belum sepenuhnya terbangun untuk hidup.
Karena terlalu banyak pahit yang harus saya telan,,
Saya ingin menyerah, tapi saya ingin tetap menjadi hidup, seperti 22 tahun silam,,, dan akan selalu seperti itu saat saya tua nanti.
Tapi apakah hidup yang saya pilih ini salah ?
Apakah hidup yang saya pilih jalannya ini benar ?
Semua pertanyaan2 gampang itu sangat sulit untuk dijawab.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar